Bingung Zakat Penghasilan dari Gaji Kotor atau Gaji Bersih?
Bagi Anda yang memiliki penghasilan tetap setiap bulan, mungkin pernah merasa bingung saat mendengar istilah zakat penghasilan. Kebingungan itu biasanya muncul ketika harus menentukan apakah zakat penghasilan dari gaji kotor atau gaji bersih yang seharusnya dikeluarkan sesuai ketentuan syariat.
Kebingungan ini sangat wajar karena setiap orang memiliki kondisi keuangan, tanggungan, dan kebutuhan hidup yang berbeda. Agar Anda bisa memahami perbedaannya dengan jelas dan menunaikan zakat dengan lebih yakin, yuk simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Zakat Penghasilan?
Zakat penghasilan, atau yang juga dikenal sebagai zakat profesi, merupakan bagian dari zakat mal yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim. Kewajiban ini berlaku bagi siapa pun yang memperoleh penghasilan rutin dari pekerjaan halal dan sesuai dengan ketentuan syariat.
Segala bentuk pendapatan yang Anda terima, baik berupa gaji, honor, maupun upah jasa, termasuk dalam kategori zakat penghasilan. Sumber penghasilan tersebut bisa berasal dari pekerjaan tetap seperti pegawai, maupun dari profesi bebas seperti dokter, konsultan, atau pengacara.
Majelis Ulama Indonesia menjelaskan bahwa zakat penghasilan memiliki batas minimal atau nisab sebesar 85 gram emas dalam satu tahun. Apabila total penghasilan Anda sudah mencapai atau melebihi nilai tersebut, maka zakat penghasilan wajib ditunaikan sebesar dua koma lima persen.
Zakat penghasilan dapat dibayarkan setiap bulan agar terasa ringan atau dikumpulkan dan dibayarkan setahun sekali sesuai kemampuan. Dengan menunaikannya secara rutin dan ikhlas, zakat penghasilan menjadi bentuk rasa syukur sekaligus sarana menyucikan harta yang Anda miliki.
Jadi, Mana yang Tepat untuk Zakat Penghasilan dari Gaji Kotor atau Gaji Bersih?
Dalam ajaran Islam, zakat penghasilan diberikan kelonggaran agar setiap umat dapat menunaikannya dengan ringan dan tanpa rasa terbebani. Prinsip utamanya adalah menjaga keseimbangan antara memenuhi kebutuhan pribadi dan berbagi rezeki kepada sesama secara tulus.
Para ulama memiliki pandangan yang beragam mengenai dasar perhitungan zakat, namun keduanya sama-sama berangkat dari semangat keadilan. Sebagian berpendapat bahwa menghitung zakat dari penghasilan kotor lebih utama karena mencerminkan rasa syukur atas seluruh rezeki yang diterima.
Sementara itu, ulama lain memperbolehkan zakat dihitung dari penghasilan bersih, terutama bagi mereka yang memiliki tanggungan besar atau kebutuhan hidup yang mendesak. Pandangan ini menunjukkan bahwa Islam memahami perbedaan kondisi setiap individu dan tidak menghendaki adanya beban berlebihan dalam berzakat.
Zakat penghasilan dari gaji kotor atau gaji bersih ini sama-sama benar selama dilakukan dengan niat ikhlas dan mempertimbangkan kemampuan finansial yang dimiliki. Dengan memahami kelonggaran ini, Anda dapat menunaikan zakat dengan hati tenang, penuh keyakinan, dan sesuai dengan tuntunan syariat Islam.
Cara Menghitung Zakat Penghasilan dengan Tepat dan Mudah Dipahami
Mengetahui cara menghitung zakat penghasilan sangat penting agar kita bisa menunaikannya sesuai kemampuan tanpa merasa terbebani. Yuk, simak penjelasan berikut ini tentang perhitungan zakat dari gaji kotor dan bersih agar Anda bisa memilih dengan tenang.
Zakat dari Gaji Kotor (Bruto)
Zakat dari gaji kotor adalah salah satu metode yang termasuk dalam zakat penghasilan dari gaji kotor atau gaji bersih, di mana zakat dihitung sebelum potongan apa pun. Dengan kata lain, zakat dikeluarkan dari jumlah gaji penuh tanpa mengurangi pajak, cicilan, maupun kebutuhan hidup sehari-hari.
Rumus perhitungannya:
Zakat = 2,5% × Penghasilan Kotor
Sebagian ulama menilai bahwa cara ini lebih utama karena menunjukkan rasa syukur atas rezeki yang diterima secara utuh. Biasanya, metode ini cocok bagi Anda yang memiliki penghasilan stabil dan kebutuhan pokok yang sudah tercukupi dengan baik.
Namun, Islam selalu menekankan pentingnya keseimbangan dalam setiap ibadah, termasuk dalam menunaikan zakat penghasilan. Jika membayar zakat dari gaji kotor tidak memberatkan dan tetap memungkinkan Anda memenuhi kebutuhan keluarga, maka cara ini sangat dianjurkan.
Zakat dari Gaji Bersih (Netto)
Sebagian ulama berpendapat bahwa zakat juga boleh dihitung dari gaji bersih, yaitu penghasilan setelah dikurangi kebutuhan pokok. Kebutuhan tersebut mencakup biaya makan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, serta cicilan atau tanggungan rutin yang wajib dipenuhi setiap bulan.
Rumus perhitungannya:
Zakat = 2,5% × (Penghasilan Kotor - Kebutuhan Pokok)
Pendekatan ini dinilai lebih fleksibel karena mempertimbangkan kemampuan ekonomi serta beban tanggungan yang dimiliki oleh setiap orang. Oleh sebab itu, bagi Anda yang memiliki banyak tanggungan, perhitungan zakat dari gaji bersih tetap sah dan bernilai ibadah.
Islam mengajarkan bahwa zakat tidak dimaksudkan untuk memberatkan, melainkan memberi kemudahan bagi umat dalam menjalankan kewajiban ibadahnya. Dengan cara ini, Anda tetap dapat menunaikan zakat tanpa mengurangi kemampuan memenuhi kebutuhan pokok keluarga dengan layak.
Memahami perbedaan antara zakat dari gaji kotor dan gaji bersih sangat penting agar Anda bisa menunaikannya secara tepat dan sesuai syariat. Dengan pemahaman ini, Anda dapat memilih metode yang paling cocok dengan kondisi keuangan serta kebutuhan hidup sehari-hari.
Kedua cara perhitungan tersebut sah selama dilakukan dengan niat ikhlas dan disesuaikan kemampuan finansial yang dimiliki. Jika Anda ingin menunaikan zakat penghasilan dari gaji kotor atau gaji bersih secara terpercaya dan mudah, mari lakukan melalui Asterra Peduli sekarang juga.